Sekantong Coklat

It's All About My Life, My World and My Story.

Kopdar ke-2 Goodread Indonesia Surabaya: Exploring Heritage of Surabaya

on April 12, 2011
Yup, kali ini GRI Surabaya melakukan kopdar untuk kali kedua. Kopdar kali ini kami mengexplore heritage dari kota Surabaya. Yah, meskipun kami berada di kota Surabaya, terus terang kami juga kurang mengenal kota kami sendiri #eh *buka kartu*
Berkumpul di depan cafe House of Sampoerna, sebelum keliling daerah bersejarah Surabaya. Dijadwalkan kumpul di Cafe jam 8:30, korwil dibuat deg-deg oleh salah satu anggota yang telah (red: Agung) *getok Agung*. Karena bus sudah akan berangkat dan si Agung tidak kunjung datang, saya memutuskan untuk meninggalkan si Agung. Tepat pukul 09:00 bus berangkat, begitu bus berbelok keluar dari area HoS (red: House of Sampoerna) muncullah batang hidung si Agung, tapi sayang sekali, karena peraturan dari pihak Sampoerna bahwa bus tidak boleh menerima penumpang di tengah jalan, akhirnya si Agung tetap tidak bisa termuat. Hadeeehhhh…. *getok si Agung lagi*

Tour kami pun dimulai tanpa Agung, guide kami mulai menerangkan satu persatu gedung peninggalan jaman Belanda dan fungsinya dahulu. Karena didalam bus kami juga ada bule-bule dari Thailand (bule bukan?, whateverlah, yang pasti mereka dari wisatawan dari Thailand), kami dipandu dalam bahasa Inggris campuran #apaantuh …. maksudnya kadang bahasa Inggris kadang dicampur bahasa Indonesia. *iiihhh, bule-bulenya ganteng loh, lap iler*
Adapun rute bus yang kami lewati adalah:
1. Bus melewati Kalisosok (penjara yang sekarang tidak digunakan lagi) yang konon perlakuan pernjara ini dulu sangat kejam.
2. Internatio (berhenti 10 mnt),tidak turun. Gedung yang berdekatan dengan mall JMP. Dahulu gedung ini bernama Internatio Willemplein. Setelah pasukan Brigjen Malaby berhasil mendarat di pelabuhan Tanjung Perak pada tanggal 25 Oktober 1945, gedung ini dikuasai oleh pasukan Sekutu. Pada tanggal 28 – 30 Oktober 1945 gedung ini dikepung oleh pejuang-pejuang Indonesia. Sewaktu berusaha menghentikan tembak menembak tersebut Brigjen Mallaby tewas terbakar dimobilnya. Sekarang gedung ini masih kosong.
3 Polwiltabes Sikatan, disini kami berhenti sektiar 5 menit tanpa turun. Gedung ini dahulu merupakan bangunan peninggalan kuno bekas peninggalan Komplek Asrama Polisi Belanda.
4. Gedung PTP XXII, dahulu gedung yang berlokasi di jalan Merak (Surabaya Utara) adalah HVA (Handels Vereeneging Amsterdam) Comidies Straat. Pada tanggal 1 Oktober 1945 gedung dijadikan Markas Angkatan Darat Jepang di Jawa Timur dibawah pimpinan Jenderal IWabe. Setelah gedung ini dikepung oleh pejuang pejuang Indonesia, Drg. Mustopo menggertak Jend. Iwabe untuk menyerahkan kekuasaannya. Akhirnya gedung ini dijadikan markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jawa Timur dibawah pimpinan Drg. Mustopo.
5. Bangunan di jalan Veteran Lindeteves, Gedung Brantas, Kantor Gubernur, melewati Tugu Pahlawan yang penuh sesak karena pasar dadakan yang ada setiap minggunya.
6. Melewati jalan Tunjungan
7. Hotel Majapahit, adalah sebuah gedung bersejarah di Jalan Tunjungan. Dahulunya bernama LMS, lalu Hotel Oranje dan kemudian Hotel Yamato dan juga Hotel Hoteru. Sekarang Hotel Majapahit yang dibangun pada tahun 1910 oleh Sarkies Bersaudara dari Armenia tersebut sudah berubah menjadi hotel bintang lima. Salah satu momen perjuangan di hotel ini terjadi pada 19 September 1945, yakni Insiden Bendera. Peristiwa bermula ketika sekelompok orang Belanda yang dipimpin Mr. Pluegman mengibarkan bendera Merah Putih Biru di puncak sebelah kanan hotel. Para pejuang Indonesia melakukan perobekan warna biru pada bendera Belanda, yang berwarna merah, putih dan biru, dengan demikian bendera itu menjadi merah putih yaitu bendera Republik Indonesia. Insiden bendera itu juga mengakibatkan terbunuhnya Mr. Pluegman.
8. Gedung Grahadi, adalah gedung negara yang berlokasi di jalan Pemuda yang dipergunakan sebagai Rumah Kediaman dan Gedung Pertemuan Gubernur Jawa Timur. Pada mulanya gedung ini menghadap Kalimas, sehingga pada sore hari penghuninya sambil minum-minum teh dapat melihat perahu-perahu yang menelusuri kali tersebut. Perahu-perahu itu juga dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, mereka datang dan pergi dengan naik perahu. Pada tahun 1802 gedung ini yang semula menghadap ke Utara, diubah letaknya menghadap ke Selatan seperti yang kita lihat sekarang.
9. Balai Pemuda. Gedung ini, dahulu bernama Simpangsche Societeit yang dipakai Klub Malam orang kulit putih. Dahulu bagi pribumi dan anjing dilarang masuk, dimana pengumuman ini masih ada sampai sekarang. Pada bulan Nopember 1945 gedung ini dijadikan Markas Besar PRI Pusat (Pemuda Republik Indonesia).
10. Balai Kota Surabaya. Kami semua turun untuk melihat-lihat. Awalnya kami tidak diperkenankan untuk masuk balaikota (hanya diperbolehkan di halamannya saja) karena disana sedang ada acara yang dihadiri Walikota Surabaya. Tapi entah kenapa, Ibu Risma melihat kami dan wisatawan dari Thailand langsung memperbolehkan kami semua masuk ke dalam (kasian kale yaaah sama tampang-tampang kami semua) dan bahkan kami dipandu langsung oleh Ibu Risma. Beliau menujukkan tempat bunker dimana telah ditemukan dua bunker bawah tanah. Bunker tersebut cukup luas dengan ukuran lebar sekitar 7×4 meter dan dengan ketinggian hampir mencapai 3 meter. Sedangkan dinding tembok bangunan pengaman dari serangan musuh cukup tebal. Pada ujung bangunan bunker terdapat dua tangga yang menempel di dinding sisi barat dan timur. Tangga terbuat dari besi ini menuju ke sebuah pintu besi. Saat pintu besi dibuka ternyata terdapat lorong dengan ukuran 1×1 meter. Lorong yang satu menuju taman balai kota dan yang satu lagi konon tembus ke kediaman walikota. Tapi lorong ini masih belum dibuka untuk umum, sehingga kami tidak diperbolehkan untuk masuk. Alasannya, lorong yang sudah teridentifikasi menuju taman balai kota baru akan dibuka untuk umum bulan depan karena harus dibersihkan terlebih dahulu, sedangkan lorong yang konon menuju kediaman walikota belum sepenuhnya diteliti dan dijelajahi. Pihak pemkot sendiri belum berani untuk melakukan penelusuran lorong tersebut karena dikhawatirkan ada udara beracun
Eh, eh, kami juga disyuting oleh entah statiun televisi mana *lupa nanya*, dan juga diliput oleh koran harian yang juga entah apa *lupa nanya juga* aduuuh maap abis sudah terkesima oleh pemandunya sih. Usut punya usut, ternyata hari ini (red: 11 Apr 11) beritanya muncul di koran harian Surya dan Seputar Indonesia… tapi sayang, foto kami bersama bu Walikota tidak di muat…. *siapin sepanduk buat demo*
Ngomongin soal foto, kami juga tak lupa berfoto dengan Ibu Walikota Surabaya, Ibu Risma. Yaaak, action, jepret dah.

11. Setelah selesai, kami menaiki bus lagi dan menuju Gedung Kesenian Jatim Cak Durasim dan turun melihat anak-anak kecil yang sedang berlatih tari.

12. Melewati Praban
13. Melewati Gedung Nasional Indonesia yang berlokasi di jalan Bubutan, sejak berdirinya pada zaman Belanda, menjadi Pusat Pergerakan Nasional. Pada tanggal 25-27 Agustus 1945 di gedung ini dibentuk Komite Nasional Indonesia dan BKR. Pada tanggal 21 September 1945 gedung ini digunakan mempersiapkan rapat Samodra bersejarah untuk menentang larangan Kempetai. Disini terdapat makam Dr. Soetomo pendiri perkumpulan Budi Utomo bersama Dr. Wahidin Sudirohuso.
14. Melawati Tugu Pahlawan lagi. Tugu ini dirancang sendiri oleh presiden pertama kita, Ir. Soekarno. Tugu ini didirikan untuk memperingati tragedi 10 November 1945. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme
15. Melewati jalan Indrapura, dan jalan Rajawali
16. Melewati jl Kasuari, Kutilang dan kembali ke terminal HoS pada pukul 10:20
Turun dari bus, kami pun menuju lokasi kedua yang masih berada di area HoS, Museum Sampoerna.
Sejarah berdirinya Sampoerna
House of Sampoerna dibangun tahun 1862 oleh Liem Seeng Tee. Bangunan ini sudah lebih dari 140 tahun berdiri, tapi masih terlihat kokoh hingga sekarang. Bangunan ini dibuka untuk masyrakat umum tahun 2003. HoS sekarang telah menjadi salah satu tujuan wisata. Museum Sampoerna sendiri dibangun untuk mengenang perjuangan dan perjalanan Liem Seeng Tee dan istrinya yang dulu hanyalah seorang pedagang kelontong hingga berhasil mendirikan perusahaan rokok. Saya sendiri bukan perokok, bahkan paling tidak suka melihat orang merokok apalagi kalau asap rokoknya sampai mampir ke hidung saya. Meskipun begitu, bukan berarti saya tidak suka dengan museum ini, kegigihan dan perjuangan pasangan suami istri inilah yang patut kita contoh.
PT HM Sampoerna adalah nama perusahaan yang didirikan oleh pasangan suami istri ini dan merupakan salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia saat ini, didirikan oleh Liem Seeng Tee (1893–1956). Liem Seeng Tee adalah seorang imigran dari sebuah keluarga miskin di provinsi Fujian di Cina. Pada tahun 1898, tidak lama setelah ibunya meninggal, ia bersama ayah dan kakak perempuannya datang ke Indonesia untuk mengadu nasib. Namun ia harus dipisahkan dengan kakak perempuannya, karena sangat miskin, sehingga ayahnya harus rela anak perempuannya diadopsi sebuah keluarga di Singapura. Tak lama setelah tiba di Indonesia, ayahnya meninggal. Itu yang membuatnya harus mandiri sejak usia 5 tahun di negeri yang asing.Kemudian Liem diadopsi sebuah keluarga di Bojonegoro, sebuah kota kecil dekat Surabaya, dan mulai belajar meracik tembakau yang kemudian dijualnya di stasiun kereta api. Pada usia 17 tahun, ia mulai bekerja mandiri dengan menjual rokok di dalam gerbong-gerbong kereta api.
Pada tahun 1912, tidak lama setelah menikahi Siem Tjang Nio, dia menyewa sebuah warung kecil Tjantian di Surabaya. Mereka menjual berbagai bahan pokok dan produk tembakau. Selain itu, ia juga menjual tembakau dengan menggunakan sepeda menyusuri jalan-jalan di Surabaya. Dari awal yang sangat sederhana ini, perusahaan raksasa Sampoerna dimulai. Pada tahun 1913, dia mendirikan Handel Maastchpaij yang kelak menjadi PT HM Sampoerna. Singkatan dari HM itu sendiri adalah Hanjaya Maskapai atau sekarang lebih dikenal dengan nama Hanjaya Mandala. Sampoerna terus berkembang menjadi perusahaan besar meski sempat mengalami beberapa masalah.

House of Sampoerna, area seluas 1,5 hektar ini terdiri atas beberapa bangunan. Bangunan besar di tengah dan diapit dua bangunan kecil di kiri dan kanannya. Bangunan ini dididirkan pada tahun 1864 dan awalnya digunakan sebagai panti asuhan untuk anak yatim piatu laki-laki bernama Jongens-Weezen-Insichting.Pada tahun 1912, panti asuhan dipindahkan ke Jalan Embong Malang. Lalu pada tahun 1932 setelah cukup sukses, Liem Seeng Tee membeli bangunan ini sebagai pabrik rokok Sampoerna. Sejak itu, tempat ini dikenal sebagai Pabrik Taman Sampoerna. Bangunan ini sendiri dijadikan museum pada tahun 2003.

Bangunan besar House of Sampoerna di bangunan utama yang besar, pada awalnya terdapat aula yang cukup luas. Atas ide istri Liem, aula tersebut dibuat menjadi gedung bioskop dengan nama Sampoerna Theater. Gedung bioskop ini dilengkapi dengan panggung berputar dan lantai buatan untuk efek khusus, sehingga membuatnya menjadi salah satu gedung theater terhebat pada masanya. Ir Soekarno sering menggunakan aula ini untuk mengobarkan semangat perjuangan pada masa penjajahan. Bahkan Charlie Chaplin pernah mengunjungi gedung bioskop itu.
Saat ini, bangunan utama dijadikan museum rokok House of Sampoerna. Saat memasuki bangunan ini, aroma cengkeh bisa tercium. Bila kita mengunjungi museum pada jam kerja, aroma cengkeh lebih menyengat dan bisa membuat batuk bagi yang tidak kuat.

Museum Sampoerna

Muesum terbagi menjadi 3 ruang pada bagian bawah.
- Ruang Pertama
Di ruang pertama dalam bangunan besar ini, Anda dapat melihat replika warung rokok yang pertama kali digunakan oleh Liem Seeng Tee untuk berjualan bahan pokok dan tembakau. Anda juga bisa menyaksikan sepeda tua miliki pendiri Sampoerna yang digunakan untuk berjualan rokok. Selain itu, terdapat berbagai barang pribadi seperti kebaya, sarung, dan furnitur tua milik pendiri Sampoerna. Itu semua koleksi dari sang istri Liem Seeng Tee. Dalam ruangan ini juga terdapat alat pengeringan tembakau yang disebut Brick Oven dimana masih tradisional sekali dari batu bata dan ada ruangan di dalamnya untuk perapiannya. Pada setiap diding dan kaca, kita akan mendapati simbol 3 tangan berlawanan hadapnya. Simbol ini adalah simbol PT HM Sampoerna yang mengartikan 3 aspek penting dalam perusahaan yaitu : Produsen, Distributor, Konsumen. karena memang tidak dipungkiri 3 inilah komponen penting dalam suatu perusahaan yang bisa dibilang dalam skala luas atau umum.
Replika toko kelontong yang dulu digunakan
- Ruang Tengah
Di bagian tengah bangunan utama, terdapat berbagai foto dari direktur dan komisaris Sampoerna sebelum tahun 2005 pemegang saham penuh ini adalah keluarga Sampoerna sendiri. Michael Sampoerna merupakan generasi terakhir dari keluarga Sampoerna yang akhirnya salah satu pebisnis yang berani mangambil keputusan ekstrim dalam dunia perbisnisan untuk menjual semua saham PT HM Sampoerna pada Philip Morries International pada tahun 2005 namun hanya satu yang masih tetap menjadi hak keluarga adalah bagunan House of Sampoerna. Saat manajemen masih dipegang oleh keluarga Sampoerna ada sebuah kepercayaan dan budaya bahwa siapapun pemimpin perusahaan harus tinggal dalam area pabrik tersebut dikarenakan memudahkan dalam manangani dan mengawasi proses produksi.
Selain itu terdapat berbagai koleksi rokok yang pernah diproduksi Sampoerna serta koleksi korek api yang beragam. Dan dalam ruangan ini pun juga terdapat kamar mandi yang di desain klasik dan minimalis sekali dengan cat tembok bermotif gubuk dengan nuansa coklat. Pada bagian atas tembok ini terdapat simbol dari PT HM Sampoerna yang bergambarkan satu singa jantan yang berarti seorang lelaki yang mencari nafkah, sedangkan satu singa betina yang menggendong anak singa mengartikan seorang wanita yang taat pada yang lelaki dan tidak meninggalkan kodratnya sebagai wanita dan ibu rumah tangga dengan merawat anak-anaknya. Bagian bawahnya terdapat slogan dari bahasa sansekerta berbunyi Anggarda Paramita yang berarti menuju kesempurnaan. Di bagian atasnya terdapat 9 bintang.
Dikarenakan Liem Seeng Tee orang cina yang menganut kepercayaan bahwa angka 9 adalah angka keberuntungan. Jumlah ikan yang ada di dalam kolam pada ruang pertama pun berjumlah 18 bila ditelaah 8+1=9 dan bila dibagi dua hasilnya juga 9, dan dari salah satu produknya Dji Sam Soe 234 dimana 2+ 3 + 4 = 9. Kepanjangan dari Dji Sam Soe ini pun juga cukup unik, DJIwaku SAMpai SOErga, selain itu, angka 234 juga merupakan resep dari peracikan rokok tersebut.
- Ruang Belakang
Lalu di ruang paling belakang masih di bangunan utama, terdapat berbagai alat produksi rokok dari Sampoerna pada masa awal. Seperti alat produksi rokok serta mesin cetak tua. Kita juga bisa melihat berbagai peralatan riset untuk pembuatan rokok dari departemen R&D pada masa itu. Ada pula replika kios-kios pemasaran produk PT HM Sampoerna yang diberikan secara gratis kepada para pedagang rokok, dan juga sebuah Delman. Dan pada ruangan ini juga terdapat fasilitas LCD untuk menampilkan film dokumenter tentang PT. HM Sampoerna dan kita mendapat lebih banyak informasi dari sini.
Dalam ruangan ini terdapat pula alat-alat Marchingband serta foto-foto ajang performance Marchingband, grup tersebut terbentuk dari 234 karyawan Sampoerna itu sendiri. Marchingband ini pernah memeriahkan Rose Parade di Pasadena – California, Amerika Serikat. Tapi sayang sekali, marchingband ini sekarang tidak dibentuk kembali.
- Bagian atas
Bagian atas hanya terdapat toko souvenir yang menurut saya harganya sangatlah mahal, bayangkan, saya pernah beli sepeda mini waktu saya di Jogja bulan maret kemarin seharga 100sekian ribu, tapi disini dengan model dan besar yang sama harganya dibandrol 2x lebih mahal. Tapi dari lantai inilah, kita bisa melihat para pekerja rokok Sampoerna yang sedang bekerja.

Ruang Multifunction

Pukul 11:30, kami menuju multifunction, tapi sebelum itu kami berpose terlebih dahulu.

Setelah semuanya berkumpul, kami pun duduk melingkar dan saya pun memulai acara denga mengeluarkan sebuah bola, dimana setiap orang yang memegang bola harus bercerita tentang buku yang sedang dibaca, kebiasaan buruk dan cita-cita yang belum tersampaikan dan setelah selesai bercerita mereka akan melemparkan bola tersebut kepada salah satu anggota yang belum bercerita. Setelah itu kami mengadakan games dan swap buku yang dimana ada seorang anggota yang bernama Ferry memberikan sumbangan buku banyaaak sekali untuk dibagi-bagikan. *berbinar-binar*

sssttt….. ruangan ini free of charges lho

Pukul 12:30 acarapun selesai dan kami menuju cafe untuk makan bersama. Makanannya sih std (read: standard) sih, tapi sangat banyak. Saat acara makan pun, kami saling bertukar informasi mengenai buku yang bagus serta agenda selanjutnya untuk berkumpul hari minggu (read: 17 Apr 2011) berkumpul di Gramedia Expo.

sekian LPM dari saya *lap keringat*Cerita dibalik reservasi heritage:

Bila anda ingin berkunjung dan melakukan perjalan heritage bersama HoS, ada baiknya anda melakukan reservasi terlebih dahulu, apalagi bila anda merencakan perjalanan anda di hari sabtu dan minggu. Reservasi dibatasi max 5 orang, tapi karena kami dari sebuah komunitas kami diijinkan melakukan booking untuk 12 orang, dan karena masih kurang, saya menggunakan nama salah satu anggota untuk booking lagi sebanyak 5 orang. *curang dikit, gak papa lah, yang penting bisa booking banyak*. Karena kapasitas bus hanya sejumlah 24 orang, dan tidak boleh di booking semuanya. Total reservasi saya ada 17 seat, itupun saya harus menolak beberapa pendaftaran karena reservasi sudah penuh. Bagi teman-teman yang belum datang pada kopdar ini, semoga kopdar berikutnya bisa ikutan.
Jam Buka:
Setiap: 09.00-22.00 WIB
Gratis untuk Umum
Alamat:
Taman Sampoerna 6
Surabaya
Jawa Timur
60163
Telp: (031) 353 9000

Bila anda melakukan perjalan heritage pada hari kerja, anda akan dibawa berkunjung ke museum Tugu Pahlawan, yang tidak didapatkan ketiga weekend karena museum ini libur pada hari minggu.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: