Sekantong Coklat

It's All About My Life, My World and My Story.

Tour de Jogja, 5 Maret 2011 – "Where bookworms, model-wannabes, adventurers and food lovers meet" Part III

on March 10, 2011
Day 2 – 6 Maret 2011
Menjelang pagi, kami semua bersiap mandi dan sarapan ala bule-bule, yah… sarapannya hanya tersedia omelet sandwich, roti dan entah apa lagi namanya aku lupa dengan menu minuman yang std (red: standard) kopi dan teh. Setelah semua sarapan, koordinator kami, berangkat menemui temannya, 3 teman yang lain (Roos, Harun, Ayu) menuju stasiun untuk pulang ke Solo dengan Ayu mencari tiket kereta yang mendadak harus  pulang ke Jakarta karena  panggilan dinas. Sedangkan aku dan 2 teman yang lainnya berangkat jalan-jalan menuju beringharjo. Kami berdua berjalan sambil berfoto-foto ria, dan dari perjalanan banyak sekali yang menawarkan jasa becaknya dengan kata-kata std banget “Becak mbakk, bertiga lima ribu, keraton taman sari, dagadu, bakpia..” dan kami jawab dengan standar pula, “Tidak pak, sudah kemariinn..” diiringi senyum manis. Iseng, kami pun menghitung berapa orang yang menawarkan becaknya, Kebayang gak berapa? 17 orang… *geleng-geleng*  sampai-sampai kami capek menjawab “Tidak pak, sudah kemariinn..”

Sesampai di beringharjo, seperti biasa, kami mencari baju buat oleh-oleh keluarga dan kami harus pintar-pintar menawar, karena harga pembuka bisa sampai lebih dari setengah dari harga sebenarnya. Tepat pukul 09.30 kami kembali ke penginapan, selain sudah dijemput oleh teman kami, Iyut, kami harus check out karena kami akan menginap dirumah mbak Niken, salah satu penulis jebolan GPU (red: Gramedia). Tapi sebelum kami menuju ke rumah mbak Niken, kami berwisata mengunjungi museum Ullen Sentalu dan coklat Monggo.
Setibanya kami di Ullen Sentalu, beberapa teman kami dari Jogja sudah menunggu kami disana. Setelah membayar bea masuk, dimana bea masuknya cukup mahal Rp. 25,000.-
Tentu saja, kami tak lupa berpose (yah, namanya juga model wannabes :D)
Jalan menuju pintu masuh musem Ullen Sentalu
Didepan pintu masuk museum Ullen Sentalu
Pintu masuk museum Ullen Sentalu
Begitu memasuki area museum, kami dibuat terkagum-kagum. Bea masuk yang aku rasa cukup mahal, terbayarkan oleh tata letak dan pemadangan di dalamnya yang begitu unik dan indah. Sayang sekali, kami dilarang berfoto di dalam museum.
Lobby museum
Selama 55 menit, kami dipandu oleh seorang guide yang cantik (maaf, aku lupa namanya) yang menjelaskan ruangan demi ruangan beserta isinya. Secara garis besar, museum ini dibagi menjadi beberapa ruangan yang terdiri dari Ruang Selamat Datang, Ruang Seni Tari dan Gamelan, Guwa sela Giri, 5 ruang di Kampung Kambang, Koridor Retja Landa,serta Ruang Budaya.
a. Ruang selamat datang
Selain sebagai “Ruang Penyambutan tamu/pengunjung museum”, di bagian ruang ini juga terdapat banner latar belakang pendirian museum Ullen Sentalu serta arca Dewi Sri sebagai simbol kesuburan.
b. Ruang Seni Tari dan Gamelan
ruang ini memamerkan seperangkat gamelan yang merupakan hibah dari salah seorang pangeran Kasultanan Yogyakarta dan pernah dipergunakan dalam pertunjukkan wayang orang dan pagelaran tari di kraton Yogyakarta. Selain itu, di ruang ini juga terdapat beberapa lukisan tari.
c. Guwa Sela Giri.
Suatu ruang pamer yang dibangun di bawah tanah, karena menyesuaikan dengan kontur tanah yang tidakrata. Ruang ini berupa lorong panjang. Arsitektur Guwa Sela Giri didominasi dengan penggunaan material bangunan dari batu Merapi. Ruang ini memamerkan karya-karya lukis dokumentasi dari tokoh-tokoh yang mewakili figur 4 kraton Dinasti Mataram.
d. Kampung Kambang
Merupakan areal yang berdiri di atas kolam air (padahal kolamnya kecil) dengan bangunan berupa ruang-ruang di atasnya. Konsep areal ini diambil dari konsep Bale Kambang dan konsep Labirin. Kampung Kambang terdiri dari lima ruang pamer museum, yaitu: Ruang Syair untuk Tineke, Royal Room Ratoe Mas, Ruang Batik Vorstendlanden, Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan.
– Ruang Syair untuk Tineke
Ruang yang menampilkan syair-syair yang diambil dari buku kecil GRAj Koes Sapariyam (putri Sunan PB XI, Surakarta) dan ditemukan di suatu ruang di dalam Kaputren Kasunanan Surakarta. Syair-syair itu ditulis dari tahun 1939-1947, oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam yang akrab dipanggil Tineke sebagai puisi-puisi kenangan. Syair ini ditujukan untuk menyemangati putri Tineke yang sedang patah hati. Melalui syair-syair ini terungkap kemampuan intelektual dalam seni sastra para putri di balik tembok kraton. Dan yang membuat kami semua kagum, semua syairnya ditulis dalam bahasa belanda. Dan konon, putri Tineke dahulu ditaksir banyak pemuda pada jamannya termasuk salah satunya adalah Ir. Soekarno.
Ada salah satu syair yang lucu banget, judulnya Gigi Kudanil, untuk lebih jelasnya, silahkan Teh Indri memamerkan hasil jepretan colongan nya. hehehe….
– Royal Room Ratu Mas
Suatu ruang yang khusus dipersembahkan bagi Ratu Mas, permaisuri Sunan Paku Buwana X. Di ruang ini dipamerkan lukisan Ratu Mas, foto-foto beliau bersama Sunan serta putrinya, serta pernak-pernik kelengkapan beliau, seperti topi, kain batik, dodot pengantin, dodot putri, asesori, dll.
– Ruang Batik Vorstendlanden
Menampilkan koleksi batik dari era Sultan HB VII – Sultan HB VIII dari Kraton Yogyakarta serta Sunan PB X hingga Sunan PB XII dari Surakarta. Terdapat banyak filosofi yang terkandung dalam setiap motif batik.
– Ruang Batik Pesisiran
– Ruang Putri Dambaan
Ruang ini dikatakan sebagai album hidup GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur. Menampilkan dokumentasi foto pribadi dari masa kanak-kanak hingga pernikahannya (1921-1951).
e. Sasana Sekar Bawana
Di ruang ini dipamerkan beberapa lukisan raja Mataram, lukisan serta patung dengan tata rias pengantin gaya Surakarta serta Yogyakarta.
Dan di akhir kunjungan kami semua mendapat suguhan minuman spesial, resepnya merupakan warisan Gusti Kanjeng Ratoe Mas, putri Sultan HB VII yang disunting sebagai permaisuri Raja Surakarta, Sunan PB X. Konon, minuman ini memberi kesehatan dan awet muda. Dimana kami hanya bisa menebak jahe, pandan, cengkeh dan gula jawa sisanya, hayooo sapa yang bisa menebak?
Dan tak lupa, teteeep, model wannabes berpose.
eh, ada cewek kecil cantik ikut berpose disebelah Iyut.
Dibawah ini view museum Ullen Sentalu yang membuat kami berdecak kagum.
Setelah mengunjungi museum Ullen Sentalu, kami pun mencari bacem dan jadah untuk memenuhi hasrat mbak Indri yang sudah ngidam dari kemarin😀. Begitu makanan tersebut didapat, kami menuju rumah makan penyetan di Kaliurang. Dan, rumah makan ini menurutku kurang recommended karena pelayanannya yang kurang menyenangkan. Bayangkan saja, aku dan Ichsan (sang fotografer kami) memesan juice sirsat, dan minumannya tidak segera muncul karena ternyataaa sirsatnya lagi kosong dan itupun kami harus bertanya terlebih dahulu kenapa minumannya gak nyampe-nyampe. Capek deh.
Usai makan, kami berpisah dengan teman-teman dari Jogja yang berlainan mobil. Sisanya, kami bertujuh menuju Kotagede dimana letak coklat monggo bermukim. Sayang sekali kami tidak bisa melihat secara langsung produksi coklat monggo karena hari libur.
Mendakati jam 5 sore, kami semua menuju rumah mbak Niken untuk beristirahat yang disambut dengan hangat oleh sang pemilik rumah, setelah mengantar kami, Iyut pulang kerumahnya sendiri (ya iyalah, rumahnya di Jogja). Sesampai di rumah mbak Niken, kami langsung disaji dengan makanan dan minuman yang tanpa sungkan-sungkan, langsung kami lahap…. hahahahah……
Sehabis magrib, koordinator kami pergi dengan Sansan (salah satu anggota GRI) untuk menonton bola… (jauh-jauh dari jakarta hanya buat nonton bola), sedangkan kami berlima, menuju bakpia patok, mirota batik dan malioboro (lagi!!) untuk hunting barang-barang yang belum sempat terbeli. Disana kami berpisah dengan Nat dan Ayu yang akan pulang ke Jakarta. Menjelang jam 21:30 kami bertiga pun naik becak menuju rumah mbak Niken tapi sebelumnya kami mampir dulu di warung oseng-oseng mercon bu Narti buat oleh-oleh (eh, tepatnya cuman aku aja sih yang beli). Daaaan, ada kejadian yang sedikit mengerikan disini, ketika becak yang kami tumpangi menyebrang, terdegar suara kecelakaan di belakang becak, gubrak gubrak duak. Aku takut sekali kami akan mengalami kecelakaan. Dan ternyata sepeda dibelakang kami mengalami kecelakaan dengan sepeda lain, dan becak kami terkena imbasnya, untungnya kami bertiga tidak sampai jatuh.
Sesampai dirumah mbak Niken, kami mandi dan makan kemudian tidur. Paginya aku harus bersiap-siap untuk pulang ke Surabaya mengejar kereta Sancaka jam 7 pagi. Begitulah pengalaman aku yang sangat menyenangkan selama di Jogja bareng teman-teman GRI. Semoga bisa terulang lagi. Amin.
—————
Daftar pustaka: Ullen Sentalu
Dok.foto: Aku, SisilNat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: