Sekantong Coklat

It's All About My Life, My World and My Story.

Keindahan pesona Curug Malela

on May 14, 2011
Curug Malela, terletak di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, berbatasan dengan Kabupaten Cianjur di barat laut Bandung. Air Curug Malela berasal dari gunung Sepuh Ciwedey, dimana air mengalir melalui sungai cicadas hingga 48 km ke curug malela. Air yang mengalir dari gunung tersebut awalnya jernih dan bersih, tapi karena air melewati perkampungan dan selokan-selokan, airnya sedikit tercamar oleh limbah rumah tangga yang menyebabkan air sedikit keruh. Nama Malela sendiri diambil dari Prabu Taji Malela raja dari kerajaan Batara Tuntang Buan yang konon dimakamkan diatas curug ini.
Sabtu, tepatnya hari ke 23 dibulan April 2011, kami para pecinta buku yang terdiri dari Aku, Panda, Teh Indri, Sisil, NurfyWenny dan Heru melakukan perjalanan ke curug malela. Perjalanan dimulai dengan berkumpulnya kami di terminal Ciroyom, Bandung.
Terminal Ciroyom.  Dok.foto: Panda
” />
Beginilah keadaan terminal Ciroyom pada saat musim penghujan. Becek dan kotor. Saat semua anggota sudah berkumpul, kami akhirnya menyewa sebuah elp untuk perjalanan dari Ciroyom ke desa Rongga dengan harga 300K. Dan pak sopir berjanji, jika memungkinkan perjalanan diteruskan hingga desa Cicadas, mereka akan mengantar kami, tentu saja dengan uang sewa naik menjadi 350K. Bila Anda ingin melakukan perjalanan tanpa menyewa elp, Anda bisa juga menggunakan angkutan umum ini tapi hanya sampai di desa Bunijaya dengan resiko berdesak-desakan dengan penumpang dan barang bawaannya yang bisa berupa ayam dan sayuran. Dari Bunijaya ke Rongga Anda harus naik ojek.
Elp pinky yang kami sewa.
Dok.foto: Panda
Perjalanan kami dimulai sekitar pk. 8:15 dan sampai di Rongga pk. 11.15 perjalanan yang singkat mengingat jarak panjang yang kami tempuh dengan jalanan yang berkelok-kelok dan terjal. Jangan ditanya lagi cara supir membawa elpnya, seperti seorang jagoan balap mobil. Tak jarang, aku merasakan perut yang memberontak dan menahan mulut agar tidak muntah. Tak bisa dibayangkan bila perjalanan ini harus berdesak-desakan dengan penumpang lain yang membawa ayam, sayuran dan sebagainya
Dan perjalanan dengan elp pun hanya bisa mencapai Rongga. Kami beristirahat sejenak di sebuah Masjid sektiar 15 menit. Dari Rongga ke desa Cicadas masihlah sangat jauh. Untuk menuju kesana, bisa ditempuh dengan berjalan sekitar 2 jam atau menggunakan ojek sekitar 15 menit. Akhirnya kami bertujuh memutuskan untuk menggunakan ojek. Anda harus pintar-pintar menawar jika akan menggunakan jasa ojek ini. Bayangkan, awalnya mereka mamasang harga 100K perorang. Gila! sungguh tidak masuk di akal. Tawar menawar pun dimulai. Waktu itu kami hampir memutuskan untuk berjalan kaki hingga akhirnya terjadi kesepakan ongkos jasa dengan para tukang ojek, yaitu sekitar 20K. Dan perjalanan dengan ojek pun dimulai.
Rongga.
Dok.foto: Panda
Selama perjalanan, saya melihat hamparan hijau kebun teh dan hawa sejuk yang menenangkan hati. Dan ketika mendekati desa Cicadas, jalanan pun sudah tidak terlihat mulus lagi. Tanah merah dan berbatu menghiasi dan saya harus berpegang kuat-kuat pada sepeda agar tidak jatuh.
Dok.foto: Panda
Dan akhirnya kami tiba di desa Cicadas. Begitu sampai, kami masih harus berjalan lagi. Omaigot, ternyata 20K tadi hanya dari Rongga ke pintu masuk desa Cicadas, sedangkan bila ingin mencapai titik terdekat dari lokasi curug malela ini kami diharuskan membayar lagi sekitar 15K. Akhirnya, kami memutuskan untuk berjalan kaki.
Selamat datang di Curug Malela. Lokasi: Desa Cicadas
Dok.foto: Panda
Jalanan desa Cicadas yang berbatu
Dok.foto: Heru
dok.foto: Panda
Perjalanan yang terjal, berbatu, berlumpur, becek, naik turun, jauh dan bawaan ransel yang berat. Sepanjang perjalanan kami dihibur oleh pemandangan nan hijau dan udara yang segar.
Dok.foto: Panda
Bila Anda naik ojek, inilah pemberhentian terkahir, dari sini Anda diharuskan berjalan kaki.
Setelah melewati pemberhentian ojek terakhir ini, tak lama berselang kami melewati jalan beralas batu yang sangat rapi. Tapi jalanan ini tidak panjang, hanya beberapa meter saja kemudian kami melewati jalan berbatu dan becek lagi.
Dok.foto: Panda
Setelah 1 jam kami berjalan dari desa Cicadas, kami berhenti di pemberhentian terakhir dimana terdapat warung yang menjual makanan dan minuman. Disini kami pun beristirahat sejenak untuk menganjal perut yang sudah lapar dan juga menunggu gerimis reda.
Dok.foto: Panda
Ada baiknya Anda membawa makanan dari rumah berupa nasi dan lauk pauknya karena warung ini hanya menyediakan air kemasan, kopi dan sebangsanya, mie seduh kemasan dan gorengan saja.
Dok.foto: Panda
Dari sini, keindahan Curug Malela sudah terlihat. Kami pun tak lupa untuk mengabadikan terlebih dahulu
Dok.foto: Nurfy
Setelah makan dan minum, gerimis juga tak kunjung reda, akhirnya kami memutuskan untuk menuju curug malela. Kami harus melakukan perjalan lagi menuju curug malela yang kami idam-idamkan, tapi sebelumnya kami menitipkan tas ransel kami kepada ibu penjaga warung karena melihat kondisi jalan yang lebih sulit dan terjal dihadapan kami tentu saja barang berharga kami bawa. Karena gerimis masih tabah menemani, Sisil pun memakai mantel pocket dan aku tak lupa memakai jaket anti air sedangkan yang lainnya pasrah apa adanya.
Dok.foto: Panda
Jalan yang terjal dan becek tak menghalangi kami untuk terus maju pantang mundur menuju curug malela. Dari dokumen foto-foto ini bisa dilihat sendiri bagaimana perjuangan kami. Ada baiknya Anda membawa tongkat untuk membatu menahan tubuh jika melewati turunan atau tanjakan. Tongkat ini bisa didapatkan di sekitar perjalanan. Atau, bila Anda menemui penduduk sekitar yang sedang berjalan dengan membawa parang, jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuannya memotong kayu untuk Anda.
Dok.foto: Panda
Dok.foto: Panda
Dok.foto: Panda
Dok.foto: Panda
Dok.foto: Panda
Dok.foto: Panda

Setelah setengah jam kami berjalan melewati lumpur, jembatan pematang sawah, akhirnya kami sampai di Curug Malela. Bahagia rasanya. Setelah perjuangan yang begitu berat.

Dok.foto: Panda
Dok.foto: Panda
Dok.foto:  Indri
Curug Malela mempunyai ketinggian mencapai 60 m dengan lebar sekitar 70 m. Sedangkan kedalaman dari Curug Malela ini mencapai hingga 22 m.
Seperti yang terlihat pada foto diatas, dibelakang batu besar dengan panah warna merah, kami dilarang keras untuk berenang pada area tersebut karena kedalamannya hingga 22 m yang konon bila kita terseret bisa menembus sampai laut kidul.
Sedangkan area panah biru, dimana kedalaman air hanya sekitar 1,70 m kami diperbolehkan untuk berenang, mandi atau main siram-siraman. Dan akibat dari hujan selama 3 hari menjadikan air Curug Malela ini memiliki debit air yang cukup banyak dan deras. Ketika kami berkunjung, kami tidak diperbolehkan menyeberang, berenang apalagi mandi. Meskipun begitu, beberapa teman-teman tidak ingin menghilangkan moment siram-siraman.
Dan informasi dari ketua PPM (Perkumpulan Pemuda Malela), setiap hari Senin dan Kamis, DILARANG KERAS berenang apalagi mandi di semua area Curug Malela. Ini terkait dengan mitos yang ada disana, katanya bila sampai dilanggar, beberapa dari rombongan pasti ada saja yang menghilang.
Setelah puas menikmati Curug Malela ini, sekitar pk. 15:30 kami pun beranjak naik, kembali kepada ibu warung tadi. Perjuangan untuk kembali menuju warung tempat kami menitipkan ransel tadi sungguh perjuangan yang berat karena jalananan yang menanjak. Dan dalam perjalanan itu pula, kami bertemu sekelompok manusia yang sedang turun menuju curug dengan membawa sepeda. Ah, tak dapat dibayangkan betapa beratnya perjalanan mereka, kami yang hanya membawa kamera, hp dan air minum saja merasakan beratnya perjalanan ini.
Perjalanan naik kembali ke warung
Dok.foto: Panda
Sekembalinya kami di warung tadi, kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah bapak RW Cicadas. Ya, sejak awal kami memutuskan untuk menginap di desa ini.
Dok.foto: Indri
Sebagai pecinta buku, tak lupa dong kami juga membawa buku
Dok.foto: Panda
Dan perjalanan kami pun diwarnai dengan guyuran hujan. Sekitar hampir 1 jam kami berjalan lagi, kami sampai di rumah pak RW, dan disambut dengan baik. Kemudian pak RW membawa kami ke rumah Pak Unang, sebagai ketua dari PPM beliaulah yang bertugas menjadi induk semang kami. Ada 3 rumah yang kosong yang kami tempati dan kami pun memilih rumah ini
Rumah tempat kami menginap.
Dok.foro: Panda
Karena rumah ini beralaskan kayu dan berdinding kayu sehingga terasa lebih hangat jika dibandingkan dengan rumah berdinding bata dan rumah ini juga jauh lebih bersih dibandingkan dengan yang lainnya. Setelah shalat dan mandi, beberapa dari kami pun memasak nasi, mie dan sarden yang kami bawa dari Bandung dengan menggunakan kompor gas milik Pak Unang yang sebelumnya kami meminta untuk disediakan. Dan ketika menunggu makanan siap, Pak Unang mengunjungi rumah menginap kami untuk menceritakan asal usul curug malela.
Keesokan paginya, Nurfy yang harus pulang terlebih dahulu karena acara keluarga, sedangkan kami berenam menunggu hujan reda hingga pk. 8.30 kami pun melakukan perjalanan pulang dari desa Cicadas menuju Rongga tempat elp sewaan menunggu kami. Tak lupa kami pun berpamitan kepada Pak Unang dan keluarga atas kebaikannya menampung kami dan tak lupa kami memberikan imbalan secukupnya kepada beliau.
Di depan rumah
Dok.foto: Panda
Dok.foto: Indri
Dan perjalanan kami dimulai. Mulai dari jalan berbatu, becek, dan terjal hingga jalan mulus teraspal kami lalui. Jalanan yang  kemarin kami lalui dengan menggunakan ojek, hari ini kami lalui dengan berjalan kaki.
Dok.foto: Indri
Dok.foto: Panda
Dok.foto: Indri
Dok.foto: Indri
dok.foto: Panda
Dok.foro: Panda
Di Masjid keadaan gerimis.
Dok.foto: Panda
Setelah sekitar 2 jam kami berjalan, akhirnya kami sampai pada pemberhentian terakhir, Rongga. Karena supir elp belum datang kami pun menuju masjid untuk beristirahat sejenak di sebuah masjid. Tak lama berselang, elp yang kami sewa pun. Dan perjalanan kami dari Rongga ke Bandung pun kami mulai.
Pengalaman yang tidak akan aku lupakan.
Bila Anda hanya ingin berwisata, maka coretlah curug malela ini dari daftar. Karena sungguh berat perjuangan yang harus dikerluarkan untuk mencapainya. Dan bila Anda tetap ingin menuju kesana, ada baiknya Anda membawa pakaian lebih dan tidak disaat musim penghujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: