Sekantong Coklat

It's All About My Life, My World and My Story.

PRJ : Pekan Raya Jakarta, haruskah?

on June 16, 2011

Apa kau tau PRJ itu? Ya, Pekan Raya Jakarta ini adalah pameran yang diadakan di Jakarta setahun sekali.

Ketika saya berkunjung ke Jakarta beberapa hari yang lalu, PRJ baru saja dibuka. Apakah saya termasuk beruntung? menurut saya tidak. Kok bisa? yah,  saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat bagaimana sih PRJ itu, karena rasa penasaran. Cukup heran juga ketika sampai di lokasi, kenapa? karena untuk masuk ke area PRJ ini, saya diwajibkan membayar sekitar Rp. 20.000 yang menurut saya cukup mahal. Dan tak hanya itu, biaya parkir sepeda motor pun sangat mahal sekitar Rp. 8,000 untuk satu kali masa parkir. Saya ulangi, se-pe-da mo-tor bukan mobil.  Di Surabaya, bisa jadi 8x parkir bahkan lebih.

Keheranan saya tak cukup sampai disitu saja, ketika saya membayar tiket, saya mendapatkan selembar kupon dan sebuah kartu masuk. Ketika memasuki wilayah PRJ ini, selembar kupon tadi akan dicek dan disobek bagian bawahnya dan saya diminta berjalan ke pintu masuk dimana saya harus memasukkan kartu yang saya dapat tadi ke dalam sebuah mesin untuk membuka palang pintu. Wow, semacam kita akan masuk ke area stasiun kereta api di Jepang, pikirku.

Tapi saya bernar-benar tak habis pikir, kenapa pemeriksaan hingga 2x, apakah tidak cukup dengan tiket kartu saja, dan itu akan lebih menghemat waktu dan antrian bukan.

Sesampai di dalam, ternyata ah ternyata, saya benar-benar kecewa berat. Tadinya, saya berpikir bahwa di dalam sana saya akan lebih mengenal budaya Jakarta dengan menampilkan pameran-pameran mengenai adat Jakarta. Yah, ternyata, PRJ ini tak ubahnya bagai bazar biasa bagi saya.

Memang, harga yang dijual pada bazar ini tergolong lebih murah dibandingkan di pasaran, tapi jika kita hanya ingin melihat-lihat dan membeli hanya satu, dua barang yang selisihnya tak seberapa, dijamin kau akan rugi besar.

Dan hebatnya lagi, ternyata orang Jakarta ini cukup kaya-kaya. Ini terbukti dengan parkiran sepeda motor yang sangat luas ini penuh, berjajar bak ikan asin yang dijual di pinggir laut.

Fenomena yang cukup aneh menurut saya, aneh karena biaya yang mahal untuk memasuki areanya tapi pengunjungnya berjubel seperti antrian sembako. Bahkan hingga saat ini, saya masih tak mengerti dengan orang Jakarta. Apakah karena Jakarta sedemikian sibuknya hingga bazar yang biasa saja seperti ini bagai hiburan yang langka untuk didapat.

Entahlah.

Surabaya, Juni 2011.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: